Pertanyaan pembaca: "Saya masih percaya, tapi saya sudah lama tidak datang. Apakah itu masih cukup?"
- Yang membuat iman bertahan bukan kesempurnaan, tapi apakah Anda kembali lagi setelah berhenti.
- Ritual yang bisa dijalankan empat puluh tahun lebih berharga daripada ritual yang rapi tapi hanya dua minggu.
- Keyakinan yang hanya hidup di kepala tidak bertahan saat keadaan datang mahal.
- Kalau Anda tidak punya keyakinan, disiplin dan kejujuran adalah jalan yang sama sahnya.
- Iman bukan cara untuk merasa tidak berdosa. Itu kesalahan yang perlu Anda perbaiki sendiri.
Yang membuat iman bertahan
Kesimpulannya: iman bertahan karena Anda kembali lagi, bukan karena Anda tidak pernah berhenti.
Hampir semua orang pernah punya periode di mana hatinya sepi. Yang menentukan bukan apakah itu terjadi, tapi apa yang dilakukan setelahnya.
Ada dua cara keluar dari periode seperti itu. Yang pertama: berpikir ulang dan memutuskan masih percaya, lalu Emeritus membawa[\]. Yang kedua: memutuskan tidak percaya, dan terus hidup dengan jujur tentang itu. Dua-duanya bisa berakhir baik. Yang tidak berakhir baik adalah mengira bahwa satu-satunya jalan adalah berpura-pura tidak pernah berhenti.
Yang membuat orang terjebak bukan keraguan. Yang menjebak adalah rasa malu karena keraguan.
| Kondisi | Yang biasanya terjadi | Yang bisa dilakukan |
|---|---|---|
| Ragu-ragu | Berhenti datang ke routine | Kembali ke langkah terkecil, bukan langkah paling ideal |
| Merasa jauh dari Tuhan | Menunda, bukan berhenti | Bacalah satu hal yang familiar |
| Kececatan | Berhenti total | Tulis apa yang masih di charting |
| Tidak pernah percaya | Merasa tertinggal | Gunakan padanan sekuler di bagian bawah bab ini |
Ritual yang bisa dijalankan empat puluh tahun
Kesimpulannya: pilih satu kebiasaan kecil, lakukan setiap hari, dan jangan pernah meniadakannya karena hari buruk.
Kebanyakan orang kehilangan agamanya bukan karena alasan yang salah, tapi karena pilihannya terlalu berat. Ritual yang menuntut satu jam setiap hari akan bertahan sebulan. Ritual yang menuntut lima menit akan berjalan empat puluh tahun.
Default kami adalah dua lapis. Lapis pertama adalah yang kecil, dan ini yang utama. Lapis kedua adalah yang lebih besar, dan ini yang boleh terlewat tanpa merasa gagal.
| Lapis | Bentuk | Kapan boleh terlewat |
|---|---|---|
| Harian, kecil | Baca satu bagian, satu doa, satu menit hening | Hampir tidak pernah |
| Mingguan, lebih besar | Ibadah mingguan, majelis, atau bacaan lebih panjang | Boleh satu minggu |
| Tahunan | Pilgrimage, retreat, aktivitas besar | Boleh satu tahun |
Salat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an dengan rutin kecil yang konsisten sering lebih bertahan daripada ibadah yang lengkap tapi berhenti setelah sebulan. Yang menentukan adalah kelanjutannya, bukan kelengkapan.
Saat keyakinan ditekan
Kesimpulannya: ada satu hal yang hampir tidak sering disebut, yaitu dorongan untuk membenci orang terdekat, bahkan ketika Anda tahu tidak ada hubungannya.
Setiap orang pernah punya momen di mana ia kehilangan orang yang dicintai, mendapat kabar buruk, atau merasa ditinggalkan. Di momen seperti itu, keyakinan sering diuji bukan oleh pertanyaan, tapi oleh dorongan untuk membenci.
Apa yang terjadi pada sebagian besar orang adalah rasa bersalah yang muncul dua lapis. Lapis pertama: saya tidak cukup kuat. Lapis kedua: pasti ada yang salah dengan saya.
Kedua lapis itu membuat orang memutuskan bahwa jalan paling aman adalah berhenti. Yang sebenarnya terjadi bukan bahwa keyakinan mereka hilang; mereka sedang kehilangan arah.
Konsistensi adalah satu-satunya bagian yang paling sulit. Kalau kebiasaan Anda bisa bertahan empat puluh tahun, itu bukan karena ritualnya hebat, tapi karena Anda bertahan di dalamnya saat tidak ada yang melihat.
Kalau Anda membaca ini dan merasa tidak punya keyakinan religious sama sekali, bab ini tetap berguna. Pakai kolom disiplin, kejujuran, dan kebiasaan di bawah sebagai gantinya. Hidup tanpa keyakinan religious terlihat lebih berbeda dari hidup orang lain, dan itu bukan kelemahan.
Untuk pembaca yang tidak punya keyakinan religious
| Yang biasanya dicari | Padanan yang sering berhasil |
|---|---|
| Rasa memiliki tujuan | Satu hal yang dikerjakan karena itu benar, bukan karena dihargai |
| Penghuanggaan | Satu orang yang tahu, dan tidak menilai |
| Fleksibilitas dapat diukur | Satu kebiasaan kecil yang dijalankan setiap hari |
| Keyakinan | Menuliskan apa yang Anda yakini, lalu bertahan darinya |
Tidak ada satu pun dari empat hal itu yang membutuhkan keyakinan religious. Yang dibutuhkan hanya kejujuran tentang apa yang Anda yakini.
Kebiasaan yang berjalan
Kesimpulannya: latihan terbesar justru dilakukan pada hari biasa, di mana tidak ada yang melihat dan tidak ada yang memuji.
Konsistensi adalah bagian yang paling sulit. Kalau kebiasaan Anda bisa bertahan empat puluh tahun, itu bukan karena ritualnya hebat, tapi karena Anda bertahan di dalamnya saat tidak ada yang melihat.
Sekarang: pilih satu kebiasaan, tuliskan bentuk spesifiknya, dan lakukan hari ini juga. Kalau Anda sudah punya kebiasaan yang berjalan, tambah satu hal kecil saja — jangan dua.
COMMON MISTAKES
- Menunggu feel right Appropriate sebelum menetapkan kebiasaan.
- Menambah kebiasaan baru setiap kali yang lama mulai berhasil.
- Menganggap rasa bersalah sebagai bukti bahwa ima masih hidup.
- Berhenti karena satu bulan terlewat.
- Membandingkan ritwal dengan orang yang kelihatan lebih kuat.
DO THIS MONTH
- Tuliskan kebiasaan ima spesifik yang bisa dilakukan setiap hari, dalam satu kalimat.
- Kerjakan kebiasaan itu tujuh hari berturut-turut, dan catat hari yang terlewat.
- Hubungi satu orang yang belief Sehari; tanyakan bagaimana dia bertahan di bulan-bulan sulit.
Lihat juga: Bab 5, Bab 9, Bab 10, Volume IV, Bab 7, Lampiran D.